Senin, 18 April 2011

cerpen---->dia nyata untuk ku

Dia Nyata Untuk Ku
Oleh : Fanny fajriah
Siang ini sepertinya matahari sedang tak bersahabat. Sinarnya mebuat dahiku berkali-kali mengeluarkan keringat. Terlebih aku terjebak dalam bus yang penuh sesak, setelah seharian berkutat dengan aktifitas yang cukup melelahkan. Aku memilih tempat duduk paling belakang di dekat jendela, dengan harapan angin dapat berhembus masuk dan sedikit mengurangi kelelahan yang saat ini aku rasakan. Dari dalam bus, aku dapat melihat betapa macetnya kota Jakarta. Hal yang selalu membuat Ibukota ini kehilangan keindahannya. Mataku terus menatap keluar jendela memperhatikan sekitar jalan yang dipadati kendaraan dan beberapa pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya. Pemandangan yang hampir setiap hari kutemui. Ketika mataku masih sibuk menatap keluar jendela, tiba-tiba ada seorang pengamen menyandang gitar usang menaiki bus yang aku tumpangi. Sesaat ketika ia sedang bernyanyi, aku segera memalingkan wajahku, menatap pengamen itu. Suaranya mampu membuat aku menikmati setiap alunan lagu yang ia nyanyikan. Petikan gitar usangnya menambah satu harmonisasi yang indah dengan suaranya yang berat, khas perokok.
Ku langkahkan kaki ku yang rapuh
Tinggalkan sepi kota asalku
Saat pagi buta sandang gitar usang
Ku coba menantang keras kehidupan
Datangi rumah-rumah tak jemu
Petik tali tali senar gitarku
Dari tenda ke tenda warung yang terbuka
Lantang nyanyikan lagu, oh…memang kerjaku
Tak pasti jalur jalan hidup
Ku tunggu putaran roda nasib
Ku coba paksakan untuk melangkah
Sementara kerikil-kerikil tajam menghadang langkahku…
“Ya itulah satu tembang milik Iwan Fals mengakhiri jumpa kita, karena waktu yang terbatas, jaga barang bawaan anda dan semoga selamat sampai tujuan.” kata pengamen itu sambil menyodorkan kantong bungkus permen mentos kepada setiap penumpang.
Aku yang masih terperangah mendengar suaranya sampai tak menyadari ia sudah ada tepat di hadapanku dan menyodorkan kantong yang dibawanya. Akupun dengan cepat mengeluarkan uang seribu rupiah dari dalam tas dan memberikan kepada pengamen itu.
“Makasih, Mba.” pengamen itu tersenyum dan menganggukan kepala. Aku hanya tersenyum membalas perkataanya dan terus memperhatikan pengamen itu dari sudut mataku sampai ia turun dari bus yang kutumpangi. Setelah ia sudah tak terlihat aku kembali menatap keluar jendela menikmati kota Jakarta pada saat senja sudah mulai kembali keperaduannya. Tanpa terasa aku sudah harus turun karena tujuanku sudah sampai. Kupercepat langkah kakiku, karena azan magrib sudah mendayu dayu.
Sesampainya di rumah, setelah istirahat sejenak aku segera mandi dan menunaikan shalat magrib yang sudah dua puluh menit lalu berkumandang. Hampir setiap hari aku pulang saat matahari sudah tak terlihat lagi. Aku lebih sering menghabiskan waktu di kampus.
Selesai shalat aku memilih duduk santai di atap rumah, kebetulan kamarku berada di lantai dua, sehingga memudahkan aku untuk memanjatnya. Atap rumah adalah salah satu tempat vaforitku untuk melepaskan lelah. Dari sana aku bisa melihat sinar lampu kendaran yang mampu menyihir lelah ku hilang seketika dan berubah menjadi senyum yang mengembang. Apalagi saat langit cerah, seperti lukisan yang memberi nuansa bintang pada kanvas. Sebuah suasana yang mampu menghasilkan bait-bait indah. Tiba-tiba bayangan pengamen sore tadi mengahampiri otakku tanpa permisi. Aku masih mengagumi suaranya yang mampu membuatku tenggelam dalam lagu yang ia nyanyikan. Penampilanya sama seperti pengamen yang lain. Pengamen yang mengahabiskan hidup di terminal dan jalanan. Terkesan urakan dengan rambut berantakan yang diberi warna coklat keemasan, celana yang sobek di bagian lutut dan anting di telinga kirinya, tapi suaranya tak seperti pengemen yang sering kujumpai di lampu merah.
Angin semakin berhembus menusuk-nusuk setiap persendian tulang, ku lirik jam tangan yang menempel di tangan kiri, ternyata sudah jam Sembilan malam, pantas saja angin sudah tak bersahabat, rupanya dia menegurku untuk cepat masuk. Sebelum angin semakin tak bersahabat aku memutuskan turun dan masuk kedalam kamar. Sekarang saatnya aku harus bersahabat dengan rasa kantuk dan memberikan kesempatan tubuh ini untuk merasakan ranjang yang empuk membelainya mengantarkan pada bunga tidur.
*****
“Andini….” seseorang memangilku ketika aku sedang berjalan di terminal mencari bus yang akan kutumpangi. Aku segera mencari dari mana sumber suara itu. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang ada dihadapanku saat ini. Dia…dia pengamen yang kemarin sore. Dia tau dari mana namaku?
“Pasti lo bingung, Gw tau dari mana nama lo?” pengamen itu seperti membaca keterkejutanku. Aku yang masih kaget hanya diam tak bicara.
“Gw Zepta, lo pasti tau gw siapa, kan?” katanya sambil mengulurkan tangan.
“I…iya, tau dari mana nama gw?” kataku membalas uluran tangannya dengan rasa canggung.
“Kalau buat tau nama lo siapa, itu bukan hal yang susah bagi gw.” katanya dengan gaya cuek.
“Eh sory ni bukan gw ga sopan, tapi gw udah telat.” kata ku sambil melihat jam tangan.
“Iya gw tau, hari ini lo lagi UAS, kan?” katanya seolah tau apa yang ada dipikiranku.
“Ko lo tau?” kataku yang lagi-lagi bingung dibuatnya.
“Udah cepet sana pergi, ga penting gw tau dari mana, yang penting itu lo ikut UAS dan ga telat.” katanya sambil melangkah pergi meninggalkan ku yang masih terbengong bengong.
*****
“Aduhh, gara-gara tadi di terminal gw jadi ga konsen gini.” kataku berbisik sendiri yang pusing melihat soal-soal di atas meja.
“Kenapa lo, Ndin?” kata Fina yang nyaris berbisik.
“Tadi di terminal gw ketemu orang aneh banget, Fin.” kataku tak kalah berbisik.
“Aneh gimana?” kata Fina penasaran.
“Pokoknya aneh, entar gw certain deh.” kataku dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Kalian berdua, kalau mau diskusi silahkan keluar!” kata daosen yang membuat aku dan Fina kaget, kami pun langsung mengunci mulut rapat-rapat sebelum sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Aku berusaha keras tidak memikirkan kejadian di terminal, setidaknya untuk saat ini. Aku berusaha fokus pada lembar soal. Ternyata soal-soal itu berhasil menguras otak, sampai aku tak sempat memikirkan Zepta.
Setelah selesai UAS aku lebih memilih duduk di sudut taman yang dipenuhi pohon-pohon yang daunnya menjuntai kesegala arah. Dengan sebuah buku catatan kecil dan notebook yang tak pernah absen menjadi penghuni tetap tasku. Ku biarkan angin dengan leluasa menyapa wajah dan rambutku. Ketenangan yang selalu kudapat saat aku duduk disini. Tak seorangpun mampu mengusik ketenangan itu. Tapi kali ini tiba tiba handphoneku berdering, aku lupa mematikan handphone.
“Halo, assalamualaikum…siapa nie?” kataku dengan nada tak semangat.
“Ini gw Zepta, save ya nomer gw.” katanya yang langsung memutuskan pembicaran sebelum aku sempat bicara. Dan lagi-lagi dia berhasil membuat aku terkejut untuk kesekian kalinya.
“Woy! Bengong aja elo!” Fina mengagetkan ku.
“Ahhh elo ngagetin aja!” kata ku yang langsung memasukan handphone kedalam tas.
“Lagian elo, seneng banget bengong sie jadi orang, udah kaya setan seneng banget mojok sendirian.” Fina langsung mengambil posisi tepat disampingku.
“Kalau masalah bengong itu udah dari dalem perut Bunda gw Fin.” kataku asal.
“Eh, tadi katanya lo mau cerita, cerita apa sie?” Fina menagih janjiku. Aku pun menceritakan semua kejadian di terminal, termasuk masalah Zepta menelfon ku tanpa ada satupun bagian yang terlewat.
“Dia salah satu penggemar lo kali, Ndin. Cie…yang punya penggemar.” kata Fina menggodaku.
“Ahh rese lo, malah ngecengin gw.” kataku mendorong tubuh Fina, tapi tawa fina semakin pecah.
“Gw mau balik ni, elo mau bareng ga? Apa mau nginep di kampus jagain ini pohon?” Fina mangambil posisi berdiri bersiap meninggalkan ku.
“Duluan aja Fin, gw masih betah disini.” kataku tak beranjak, sementara Fina berjalan membelakangiku. Tapi tak berapa lama setelah Fina pergi, Bunda menelfon dan menyuruh ku pulang.
*****
Setelah hampir kaki ku mati rasa karena menuggu bus di halte depan kampus, akhirnya yang di tunggu datang juga. Aku segera naik dengan sedikit berlari lari kecil untuk mencapai bus yang berhasil membuatku menunggu lama. Dan seperti biasa aku memilih tempat duduk paling belakang dekat jendela. Untuk membunuh kejenuhan, kuambil ipod dari dalam tas dan kupasang headset. Kunikmati perjalanan ini dengan sesekali ikut bernyanyi tanpa suara mengikuti lagu yang sedang kudengar.
“Lagi denger lagu apa sie? Serius banget gw liat.”
Aku yang kaget langsung menoleh ke asal suara.
“Elo? Sejak kapan ada disini?” kataku terkejut.
“Sejak elo naek ini bus, makanya jangan sibuk sama diri sendiri aja, peka dong jadi orang.” katanya santai.
“Sumpah ya, ini udah yang kesekian kalinya lo bikin gw kaget dan bingung dengan kedatengan lo yang tiba-tiba.” kata ku sambil melepas headshet yang menempel di telingaku.
“Masa sie, sampe segitunya?” lagi-lagi dia berkata dengan santai.
“Pertama tiba-tiba tadi pagi lo nyapa dan tau nama gw, ke dua tiba-tiba tadi siang lo nelfon gw dan sekarang lagi lagi dengan tiba-tiba lo duduk disamping gw.” kataku yang berkata panjang lebar.
“Gila ya, ternyata lo bisa bawel juga.” katanya yang sibuk memainkan gitar.
“Sebenernya lo siapa sie? tau nama sama nomer hp gw dari siapa?” aku menanyakan hal yang menjadi tanda tanya besar di kepalaku.
“Seperti yang lo tau gw ini adalah pengamen, ini buktinya.” katanya yang menunjukan gitar yang sejak tadi ia pegang.
“Kalau masalah nama sama nomer hp, kaya yang tadi gw bilang, buat orang kaya gw, tau itu semua tuh bukan hal yang susah.” Zepta tersenyum membuatku semakin penasaran
“Gw turun duluan ya.” lagi lagi Zepta pergi meninggalkan aku yang masih bingung.
Aku yang masih terkejut sampai tak menyadari keberadaan kondektur bus yang meminta ongkos dengan wajah yang bingung sebingung mukaku dan sedikit kesal karena aku yang terlalu lama mengambil uang dari dalam tas.
*****
Malam ini seperti biasa selepas shalat aku menuju atap. Aku memilih membaringkan tubuh dan memejamkan mata menikmati kesunyian serta bisikan angin. Sejenak melupakan kejadian hari ini, terutama tentang Zepta, mahluk yang selalu datang dengan cara tiba-tiba.
“Andinii….”
Seperti ada yang memanggilku dari bawah dan suara itu, seperti aku pernah mendengarnya. Kubuka mata secara perlahan.
“Zeptaaaaaa?” aku bangun dan berusaha meyakinkan kalau yang di bawah itu memang benar Zepta.
“Iya ini gw Zepta, turun donk kaya monyet lo nangkring di genteng.” katanya yang sedang asik menghisap rokok. Dengan cepat aku turun menghampiri Zepta.
“Elo lagi?” aku menunjuk kearah Zepta.
“Iya, kenapa lo pasti kaget, kan?” katanya sambil menghembuskan asap rokok.
“Sebenernya, lo tau gw dari siapa? gw ga terima jawaban kaya tadi siang!” kataku untuk kesekian kalinya bertanya.
“Suatu saat lo pasti tau semuanya.” Lagi-lagi dia menjawab dengan tak jelas.
“Trus, lo mau ngapain kesini?” tanyaku yang menatap kearah jalan raya.
“Besok lo ke terminal ya, gw tunggu disana. Ada yang mau kenal sama lo, satu lagi! lo ga bisa alesan kuliah, karena gw tau besok lo libur.” katanya tegas dan langsung pergi tanpa mendengarkan jawabanku.
“Arghhh gila ya tuh orang sarap banget, apa coba bikin gw pusing aja.” makiku yang pasti ia tak mendengarnya.
“Andiniiiiii…..ngapain kamu disitu? Marah-marah sendiri.” tiba-tiba terdengar suara Bunda.
“Ah, iya Bunda, ga lagi ngapa-ngapain ko.” kataku yang segera berjalan masuk kedalam rumah.
*****
Setelah aku berkali kali berfikir, akhirnya hari ini aku memutuskan untuk pergi ke terminal menemui Zepta. Di tengah matahari yang terik dan panasnya kian membakar tubuh ini, aku terus mencari sosok Zepta dikerumunan orang yang berlalulalang. Saat aku sibuk mencari sosok Zepta, tiba-tiba handphoneku berdering nyaring. Nama Zepta tertera dilayar handphone.
“Halo…assalamualaikum, lo dimana? Gw udah di terminal nie.” kataku yang masih mencari sosok Zepta.
“Sabar neng, cerewet banget deh jadi orang, lo sekarang balik badan.” katanya yang lagi-lagi memutuskan telfon begitu saja. Ketika aku berbalik badan, tiba-tiba dia sudah berada di hadapnku. Mungkin dia ditakdirkan Tuhan untuk membuat orang mati karena terkejut.
“Pasti sekarang lo kaget lagi, kan?” Zepta memperlihatkan senyumnya yang membuatku jengkel. Aku yang kesal hanya diam melihat tingkah Zepta.
“Lo ikut gw sekarang. Tenang aja biar gw anak jalanan, tapi gw masih punya agama ko. Jadi gw ga bakal ngelakuin hal-hal yang dilarang agama gw.” katanya meyakinkan ku. Entah apa yang membuatku mengikuti langkah Zepta. Aku terus mengikuti langkah Zepta yang berjalan menyeruak ditengah keramaian. Hampir disetiap ruas terminal mengenal Zepta, itu terbukti dari banyak orang yang menyapanya. Ternyata Zepta adalah sosok yang ramah dan hormat pada orang yang usianya lebih tua darinya. Disaat aku sibuk memperhatikannya, tiba-tiba dia berhenti mendadak, membuatku tersentak. Sekarang aku berada didepan sebuah bangunan yang sederhana, didalamnya banyak anak-anak kecil, sepertinya mereka adalah anak jalanan. Itu terlihat dari rambut mereka yang pirang karena sering terkena terik matahari, bajunya yang kumal dan tubuhnya kusam seperti tak terurus.
“Mereka semua yang pengen kenal sama lo, Ndin.” Zepta menunjuk kearah anak-anak yang ada di dalam bangunan itu. Aku masih diam membisu, berusaha mengerti maksud Zepta. Mengapa mereka semua ingin berkenalan denganku?
“Ka Andini ya?” tiba-tiba salah satu anak kecil menghampiriku.
“Iya sayang, ko tau nama kakak?” kataku membungkukkan badan menyamai anak itu.
“Tau dari ka Zepta.” anak itu menunjuk kearah Zepta.
“Dia namanya, Cindy. Dia yatim piatu sejak usianya dua tahun. Dan waktu itu gw liat dia luntang lantung sendirian di terminal, semenjak itu dia tinggal sama gw.” jelas Zepta.
“Nah kalau anak kecil yang ada di pojok sana, namanya Ari. Ari mengalami trauma karena sering disiksa sama preman.” kali ini Zepta menunjuk seorang anak kecil yang terus bersembunyi diantara kardus-kardus bekas.
“Mereka itu anak jalanan. Mereka setiap hari jadi loper koran, tapi kadang suka ngamen. Mereka udah ga sekolah, ga kaya lo yang dengan gampang bisa menikmati pendidikan sampai di bangku kuliah. Jangankan buat sekolah, buat makan aja mereka harus usaha sendiri. Jadi, ya lo harus maklum sama sikap mereka yang kasar.” kata Zepta yang berusaha menjelaskan padaku. Ternyata Zepta tinggal bersama mereka di bangunan sederhana ini, yang setiap hari sabtu dan minggu dijadikan sekolah untuk anak-anak jalanan dan Zeptalah yang mengajar anak-anak itu. Hal itu membuat aku semakin penasaran denganya. Seorang pengamen dengan sejuta rahasia yang tersembunyi.
Aku terus memperhatikan gerak gerik Zepta, semakin dilihat semakin banyak rahasia pada diri Zepta. Tapi aku tak pernah berhasil mengungkap segala rahasia pada diri Zepta yang ia sembunyikan begitu rapat.
*****
Dari hari ke hari aku dan Zepta semakin dekat. Tak jarang Zepta datang menemuiku di kampus atau di rumah. Meski hubunganku dengannya semakin dekat, tapi sampai saat ini aku masih belum mengetahui siapa sebenarnya Zepta. Sampai saat ini juga, aku tak pernah tau darimana dia mengenalku. Tapi bagiku untuk saat ini tidak penting dari mana Zepta mengenalku. Sekarang aku ikut membantu Zepta mengajar anak-anak jalanan yang tinggal dengannya. Dari sanalah aku mulai dekat dan mulai terbiasa dengan anak-anak jalanan. Sikap Zepta tak pernah berubah, ia sering datang dengan cara tiba-tiba.
Seperti hari ini, aku yang sedang asik duduk di kantin kampus memperhatikan setiap mahasiswa yang lalulalang memesan makanan atau minuman. Tiba-tiba Zepta sudah ada di hadapanku membawa satu gelas es capucino, minuman kesukaanku.
“Gila lo ya, hobi banget ngagetin orang, dari kapan lo udah disini? kayanya gw ga liat lo masuk dari pintu depan deh.” kataku yang memang dari tadi terus memperhatikan pintu masuk kantin.
“Dari sejak lo ngeliatin orang yang ada disudut sana.” katanya menunjuk salah satu mahasiswa yang duduk disudut kantin dengan pacarnya.
“Ah seharusnya gw ga usah nanya sama lo, karena gw pasti tau jawaban lo itu selalu ga jelas dan ga akan pernah jelas Zep.” kataku yang langsung mengambil es capucino dari tangan Zepta.
“Ga segitunya juga kali, Ndin.” Zepta menarik kursi dan duduk di depanku.
“Ngapain deh lo kesini, ga ngamen?” kataku sambil memutar mutar sedotan es capucino.
“Iseng aja, tadi gw baru selesai ngamen kok.” kata Zepta sambil menatapku. Ketika aku sedang asik berbicara dengan Zepta aku melihat sosok Fina masuk dari pintu depan kantin dan aku segera memanggilnya.
“Finaaaa….” teriakku sambil melambaikan tangan agar Fina menyadari keberadaanku.
“Heiiii…” kata Fina kembali melambaikan tangan yang menyadari keberadaanku dan dia segera menghampiriku.
“Sendirian aja lo, neng?” kata Fina ketika dia sudah ada di hadapanku.
“Gw bareng Zepta kali, Fin.” kataku sambil menoleh kearah Zepta. Dan betapa terkejutnya aku ketika tak mendapati Zepta. Ahh kemana Zepta? selalu saja menghilang tanpa pernah pamit.
“Mana Zeptanya, Ndin?” wajah Fina terlihat bingung.
“Tadi disini, ahhh kebisaan deh tuh orang suka pergi aja ga bilang dulu.” kataku kesal.
“Ohh…ya udah, laper nie gw…traktir ya?” kata Fina sambil tersenyum.
“Dasar lo Fin kebiasaan.” kataku tertawa.
Aku dan Fina semakin tenggelam dalam penbiacaran yang sangat tidak penting. Sesekali kami tertawa ketika mendapat bahan pembicaraan yang lucu. Ditengah sela tawaku, tiba-tiba handphoneku berdering, nama Zepta tertera dilayar handphone.
“Halo....assalamualaikum, biasa deh lo main pergi aja ga pernah pamit.” kata ku langsung marah-marah.
“Sory deh, tadi gw cepet-cepet.” Zepta berkilah.
“Ah elo Zep. Selalu kaya gitu, tadi tuh lo mau gw kenalin ke Fina.” jelasku.
“Maaf deh.” kata Zepta diujung telfon.
“Udah dulu ya, ga enak ni sama Fina.” aku mengakhiri pembicaraan, sementara Fina hanya menatapku dengan tatapan bingung.
“Woyy…kenapa lo Fin? muka lo ga enak banget diliatnya.” aku menggerak gerakan tangan kedepan wajah Fina.
“Ahhh ga kok.” dengan cepat Fina menggelengkan kepalanya dan ia kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya. Setelah selesai makan, aku dan Fina beranjak ke kelas untuk mengikuti matakuliah Ilmu Sosial Dasar.
*****
Untuk kesekian kalinya aku mengajak Fina bertemu dengan Zepta, karena ia begitu penasaran dengan Zepta yang belakangan ini sering menjadi topik pembicaraanku. Namun seperti biasa, Fina selalu saja tak pernah berhasil bertemu dengan Zepta. Setiap ingin bertemu, Zepta selalu saja menghilang tanpa jejak. Seperti hari ini aku dan Fina sengaja datang ke terminal tempat Zepta tinggal, tapi lagi-lagi ia tak ada.
“Mana, Ndin? Ko Zeptanya ga ada?” kata Fina yang begitu penasaran.
“Tunggu ya, Fin gw tanya dulu sama anak-anak itu.” aku menghampiri sekumpulan anak-anak jalanan yang tinggal bersama Zepta.
“Arif, liat ka Zepta ga?” aku bertanya pada Arif, salah satu anak jalanan yang tinggal bersama Zepta.
“Aduh, aku baru pulang ka, jadi belum liat ka Zepta.” Arif menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.
“Ohh…ya udah nanti salamin sama ka Zeptanya aja deh, bilang ka Andini kesini.” kataku sambil undur diri.
“Oke ka, nanti pasti aku sampein deh sama ka Zeptanya.” Arif tersenyum lebar. Dan aku kembali kepada Fina.
“Lo ngomong sama siapa, Ndin?” Fina memandang ku heran.
“Oh…itu Arif, salah satu anak jalanan yang tinggal bareng Zepta, Fin.” kataku menunjuk Arif.
“Terus, Zeptanya mana?” tanya Fina lagi.
“Ga tau kemana, paling lagi ngamen. Udah yu cabut.” kataku menarik tangan Fina.
“Tunggu deh, Ndin. Lo pernah ga sie berfikir kenapa gw itu ga pernah bisa ketemu Zepta?” Fina menahan langkahku.
“Itu emang lagi kebetulan aja, Fin.” kataku santai.
“Kebetuluan?” kataku tak yakin
“Iya kebetulan, Fin. Emang belum waktunya kali lo ketemu dia.” kataku tak mau menduga duga-duga
“Tapi Ndin...” kata Fin yang menahan langkahku lagi.
“Apa lagi, Fin?” balasku.
“Apa lo yakin Zepta itu sebenernya ada?” kata Fina pelan.
“Menurut lo, Zepta itu Cuma khayalan gw? Dan lo fikir gw gila, Fin? Tega ya lo sama temen sendiri. Gw kasih tau ya Fin, Zepta itu ada dan nyata!” kataku kesal.

“Ga, Ndin! Zepta itu ga ada dan ga akan pernah ada, karena sebenernya dia itu cuma khayalan lo doang. Inget waktu di kantin kampus? Ga mungkin dia secepat itu pergi dari kantin tanpa gw liat sedikitpun, padahal jarak gw sama lo itu ga terlalu jauh dan ga butuh waktu yang lama buat gw sampe ke tempat lo. Waktu lo angkat telfon dari Zepta? Dan lo inget ga waktu itu muka gw bengong sejadi-jadinya, karena sebenernya handphone lo tuh ga pernah bunyi dan ga ada yang nelfon sama sekali!” kata Fina membuat ku tersentak.
“Itu ga mungkin, Fin. Gw jelas-jelas ngobrol bareng sama dia, gw masih waras kok Fin.” kataku yang tak terima penjelasan Fina.
“Coba lo fikir lagi deh Ndin, ini tuh udah yang kelima kalinya lo ngajakin gw ketemu Zepta, tapi gw ga pernah ketemu dia sampai saat ini, kan? Apa itu semua kebetulan? Dan lo tau waktu tadi gw nanya lo abis ngobrol sama siapa? Lo bilang lagi ngobrol sama Arif dan lo liat ga sie muka gw bingung gitu? tadi lo tuh ngomong sendiri, gw ga liat siapa-siapa, Ndin. Bangunan yang dihadapan kita sekarang ini adalah bangunan sederana bekas kebakaran. Lo liat sekarang, Ndin! Awalnya gw ga mau bilang tentang keanehan yang lo alamin, tapi semakin hari keanehan lo makin jadi. Setiap hari, setiap kita lagi makan dan setiap ketemu gw, yang selalu lo omongin itu Zepta, Zepta dan Zepta. Mungkin gw bisa ngerti, tapi orang lain? Pasti orang lain bakal ngira elo tuh gila, karena mereka sering liat elo ngomong sendiri, Ndin.” terlihat jelas wajah Fina sangat serius.
“Gw pusing Fin, gw mau pulang!” kataku lemas. Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Fina. Apa benar Zepta hanyalah imajiku saja? Ahhhh palaku pusing bukan main, aku juga tak berani menghubungi Zepta, karena aku takut kalau yang dikatakan Fina itu benar.
Sampai dirumah aku memilih langsung masuk kamar, berdiam diri merenungi setiap perkataan Fina. Fina adalah teman baikku sejak SMA. Jadi, sangat tidak mungkin ia berbohong padaku. Dia berkata seperti itu pasti demi kebaikanku. Ya Tuhan apa yang terjadi denganku? Saat ini aku benar-benar tidak tau apa yag terjadi padaku. Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku tersentak melihat nama Zepta tertera dilayar handphone dengan cepat aku menekan tombol yes, menjawab telfon Zepta.
“Halo…assalamualaikum.” kataku singkat.
“Turun sekarang Ndin. Gw udah di depan rumah lo. Ada yang mau gw omongin.” kata Zepta serius. Aku pun dengan cepat turun menemui Zepta. Wajah Zepta tampak lesu.
“Muka lo kenapa?” tanyaku keteka melihat Zepta.
“Ga apa-apa ko, paling kecapekan.” tandas Zepta.
“Tadi lo ke terminal ya?” tanya Zepta.
“Iya.” kataku tak bersemangat.
“Tadi gw denger semua yang diomongin Fina.” kata Zepta to the point.
“Lo ada dimana? Kenapa lo ga temuin kita? Seanadainya lo muncul tadi, mungkin Fina ga akan pernah nyangka gw gila, mungkin Fina bener-bener percaya kalau lo itu ada, bukan Cuma khayalan gw doang Zep.” kataku yang nyaris berteriak. Sedangkan Zepta hanya terdiam seribu bahasa, tak satupun kata terucap dari mulutnya.
“Kenapa lo diem? Apa lo sengaja ngelakuin ini ke gw Zep?” kataku dengan intonasi sedikit lebih naik.
“Maafin gw, Ndin, tapi sekalipun gw nemuin kalian, Fina tuh ga bakal pernah bisa liat gw. Yang Fina bilang tuh bener.” Zepta menatapku dengan tatapan tajam.
“Jadi bener, lo itu Cuma imaji gw doang?” kataku yang menahan amarah.
“Bukan, Ndin. Lo lagi ga berimaji dan gw bukan imaji, tapi itu karena dunia lo sama gw beda, makanya Fina ga bisa liat gw. Awalnya gw juga bingung kenapa lo bisa liat gw.” Zepta menatapku dalam.
“Terus di terminal yang selalu nyapa lo, anak-anak jalanan itu? Kenapa mereka bisa liat lo?” aku masih tak percaya.
“Karena dunia mereka sama kaya dunia gw, Ndin. Lo inget waktu gw ngamen dan lo ngasih uang seribu? setelah ngamen gw langsung pulang, tapi betapa kagetnya gw pas liat gubuk sederhana yang selama ini jadi tempat tinggal gw udah penuh dengan kobaran api. Kepanikan gw semakin menjadi saat gw denger dari dalem suara anak-anak minta tolong. Tanpa pikir panjang gw nerobos kobaran api untuk nolong mereka, tapi usaha gw sia-sia, gw dan mereka hangus terbakar bersama terbakarnya bangunan sederhana yang sering lo datengin. Gw juga bingung kenapa lo ga pernah liat kalau bangunan sederhana itu cuma bangunan yang udah hangus terbakar.” kata Zepta dengan tatapan miris.
“Jadi, selama ini setiap gw nanya lo tau tentang gw dari siapa, lo selalu jawab dengan jawaban yang ga jelas, karena ini? karena lo sama gw itu hidup di dunia yang berbeda, jadi dengan gampang lo tau semua tentang gw? Tapi kenapa harus gw yang bisa liat lo, kanapa kenyatan ini gw dapet setelah gw ngerasa deket sama lo, Zep. Setelah perasaan ini mulai tumbuh di hati gw. Kenapa?” kali ini tangis ku pun pecah.
“Maafin gw, Ndin, seandainya gw bisa milih, gw juga pengen jadi manusia lagi, apalagi setelah gw kenal lo. Tapi itu ga mungkin Ndin dan ga akan pernah mungkin, karena gw ga bakal pernah bisa hidup lagi dan asal lo tau, gw nyesel banget kenal lo setelah gw udah ga ada. Penyesalan itu semakin menjadi setelah gw sadar kalau gw mulai sayang sama lo, Nidin ” kata Zepta yang menenggelamkan tubuhku dalam pelukannya. Aku hanya membiarkan tubuh ini direngkuhnya. Sedangkan aku hanya mampu menangis dalam pelukannya. Menangisi kenyataan perih yang saat ini harus kuterima. Entah sudah berapa butiran air mata yang jatuh kebahunya. Bahunya saat ini basah karena tangisku. Di tengah isak tangis, aku masih mendengar Zepta bernyanyi.
Tanpa terasa secara perlahan Zepta melapaskan pelukannya dan pergi menjauh dari ku. Aku hanya terdiam melihatnya berjalan membelakangiku dengan tatapan kosong. Dan dari kejauhan masih terdengar sayup sayup suara Zepta bernyanyi.
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu ku putar
Kan ku tunggu dirimu
Suaranya masih sama seperti awal aku berjumpa denganya, suara yang mampu membuat aku terpukau. Tapi kali ini, mendengarnya bernyanyi membuat hatiku kian sakit. Pada akhirnya suara Zepta sudah tak terdengar lagi seiring bayangannya yang menghilang di balik gelapnya malam. Mungkin duniaku dan Zepta berbeda, tapi dia nyata untukku dan selamanya akan menjadi nyata.

Minggu, 23 Januari 2011

setiap huruf akan memiliki arti
jika dirangkai menjadi kata
setiap kata akan mempunyai makna yang sempurna
jika di rangkai menjadi kalimat indah

Selasa, 18 Januari 2011

dia menghilang

disini...
ya! dulu dia disini
tapi sekarang...
entah kemana
jejaknyapun hilang terhapus debu

Sabtu, 21 Agustus 2010

doa ku

ya Rabb aku mohon ini merupakan jalan yang terbaik untuk ku menurut Mu. jangan biarkan aku tersesat dalam lorong kegelapan. jangan biarkan aku terperosok dalam jurang kecelakaan. jangan biarkan hamba menjadi hamba Mu yang begitu angkuh.

sekedar coret-coret

Serpihan perih ini
Begitu melekat dalam relung hatiku
Hingga kata maaf tak mampu mengahapus
Semuanya.....


Begitu indah namun begitu menyiksa
Entah mengapa dan sampai kapan.....
Sekarang, esok, lusa atau tahun-tahun berikutnya
Aku tak pernah tau.....

Gelisah membawa aku pada
Sebuah lamunan kosong yang
Yang hampa seorang diri disebuah
Tempat yang begitu asing

Kau mainkan lakonmu
Dengan sangat baik
Kau terus berpura-pura
Di depan semua orang
Ku salutkan semua sandiwaramu

Saat takdir sudah berbicara
Saatnya kita menjalankan
suratan Tuhan dengan baik.....

beribu kali mengelak
pada sebuah takdir
tapi takdir akan tetap
bersama kita

angin kegelisahan menyusup masuk
mengisi ruang hatiku yang kosong
terus dan terus hingga ruang hati ini
tak bercelah karena tlah di isi kegelisahan


saat bahasa hati
tlah berbicara
seribu kali mengelakpun tak berguna

penghianatan itu memang sakit
tapi jauh lebih sakit saat penghianatan
dilakukan oleh orang terdekat

aku tak paham
aku tak mengerti
aku bertanya-tanya
aku bimbang
dan aku limbung.....